Misteri Komplotan Teroris Kampung Melayu

Misteri Komplotan Teroris Kampung Melayu

Misteri Komplotan Teroris Kampung Melayu

Mereka memperoleh perintah segera dari grup ISIS di Suriah, Aparat keamanan sudah tahu bakal ada tindakan, cuma Kapan serta Di mana yang masih tetap Misteri! ”

Pernyataan ini saya peroleh dari dua pemerhati Intelijen. Pertama yaitu Iman Soleh dari Kampus Padjadjaran, Bandung, serta yang ke-2 yaitu Wawan Purwanto, tim pakar Intelijen dari Tubuh Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Rabu (24/5/2017), waktu peristiwa, sebenarnya saya masih tetap ada di Bali untuk satu wawancara Eksklusif dengan salah seseorang tokoh politik yang debutnya kontroversial.

Saya baru kembali akhir minggu. Bukanlah karna peristiwanya yang bikin saya mengambil keputusan selekasnya kembali dari Bali, namun karna pertanyaan mendasar yang nampak dipikiran saya pada pernyataan diatas tadi.

Pertanyaan yang berputar di kepala saya yaitu bagaimana caranya mereka terima perintah segera dari pimpinan ISIS di kota Raqqa, Suriah? Tidakkah semua jenis langkah dapat di tap, atau intercept, atau sadap, atau apa pun istilahnya.

Singkat narasi saya mengambil keputusan untuk selekasnya kembali pada Jakarta serta membuat gagasan dan data untuk lakukan perjalanan ke Bandung, Jawa Barat, berbarengan tim Aiman yang telah mulai kelelahan.

Saat saya berikanlah keyword ini, tim Aiman seakan memperoleh second wind. Mereka saat itu juga semangat untuk kembali mengawali persiapan program AIMAN dari 0 untuk tampil di tv mendadak minggu ini.

Akhir minggu, dua hari kemarin, tibalah saya di Bandung dari Bali. Terlebih dulu, saya memperoleh dua tempat yang bakal saya menuju. Pertama yaitu tempat pelaku Bom Bunuh Diri, Ichwan Nur Salam.

Ke-2 yaitu rumah Jajang, yang disebutkan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian jadi pimpinan paling tinggi grup Teroris Bandung Raya.

Jajang adalah sisi dari JAD (Jamaah Ansharut Daulah) – satu organisasi yang sering lakukan tindakan teror di Indonesia serta telah bersumpah setia (bai’at) dengan Negara Islam Irak & Syam (ISIS).

Jaringan Bandung pimpinan Jajang ini disangka adalah sel aktif yang produktif. Beberapa pelaku Bom Thamrin awal 2016 lantas yaitu kaki tangan Jajang.

Tindakan teror lain yang dikerjakan grup ini yaitu Bom Cicendo yang tidak berhasil diledakkan ditempat yang dituju sebagian bln. lantas.

Beberapa komplotan teroris ini digulung Polisi di Waduk Jatiluhur akhir 2016 lantas. Tindakan grup Jajang semua berlangsung serta menghadap di Ibu Kota.

Mengagumkan!

Penelusuran di Bandung

Tempat pertama yang saya datangi yaitu tempat tinggal Ichwan di Batununggal, Kota Bandung Jawa Barat. Ichwan yaitu warga asli Batununggal. Nenek sampai Ibunya yaitu warga asli disana. Tempat tempat tinggalnya ada di belakang pasar di lokasi itu.

Tempat ke-2 yang saya datangi yaitu tempat tinggal Jajang di Desa Padaasih, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Satu tempat tinggal memiliki ukuran cukup besar di Kampung Bongkok, Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, ‎digeledah oleh Densus 88 berbarengan Polda Jawa Barat, Jumat (26/5/2017). ‎Rumah tinggal sekalian pabrik konveksi itu punya satu diantara terduga pelaku teror bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur berinisial JIS. (KOMPAS. com/Putra Sempurna Perdana)
Walau mesti tersasar sekian kali, sampailah saya pada tempat tinggal keduanya. Apa yang saya peroleh?

Ada lima persamaan yang saya temui dari hasil penelusuran ini!

Pertama, baik Ichwan ataupun Jajang dikira sebagai orang yang santun. Ke-2, mereka yaitu anak dari tokoh yang disegani di daerahnya semasing.

Ichwan yaitu cucu dari orang yang dituakan karna debutnya di lingkungan Batununggal, sesaat Jajang, yaitu anak dari tokoh Desa, yang di kenal dermawan serta berhasil di lingkungannya.

Baca Juga : Polisi Tangkap Penyebar Chat WhatsApp Hoaks pada Kapolri serta Kabid Humas

Baru dua persamaan. Persamaan ketiga yaitu mereka orang pendiam, minim bicara. Walau mulai sejak kecil ada di lingkungan yang sama, tetangga yang tinggal mulai sejak lama mengakui tidak mengetahui Ichwan serta Jajang.

Sekurang-kurangnya sekian dari penelusuran saya pada tiga orang warga di tempat menempati Ichwan tinggal.

Persamaan ke empat yaitu tetangga tidak tahu kesibukan kelompoknya, bila tengah berkumpul atau lakukan pertemuan di satu tempat.

Sesaat persamaan ke lima yaitu keduanya tidak pernah memohon warga yang dikenalnya untuk turut kedalam kelompoknya.

Nekat masuk rumah

Persamaan ke empat serta ke lima ini, yang memancing saya untuk ajukan pertanyaan lebih dalam : bagaimana mereka lakukan komunikasi.

Saya juga nekat mencari serta masuk tempat tinggal terduga pimpinan teroris Jajang, di Bandung Barat. Mujur, pagar tidak terkunci. Saya masuk serta berkeliling dirumah.

Selang 15 menit, sesudah beragam usaha mengetuk serta jurus semacamnya saya mengeluarkan, pada akhirnya keluarlah sang yang memiliki tempat tinggal. Seseorang perempuan memakai penutup muka berwarna hitam.

Saya perkenalkan diri saya serta ia menjawab sebagian pertanyaan saya, salah satunya masalah apa yang digeledah polisi satu hari sebelumnya saya tiba serta bagaimana Jajang lakukan komunikasi. Saya meyakini jawabannya yang keluar yaitu jawaban jujur.

Sesudah saya cek lagi dengan Ketua RW sampai Kepala Desa setempat, jawabannya berkelanjutan. Disini kerja saya persis penyidik. Untuk cek serta ricek, apa pun bakal saya kerjakan.

Apa yang saya peroleh?

Barang yang digeledah serta diambil alih Polisi sebagian besar yaitu alat komunikasi HP sampai notebook.

Waktu saya bertanya ke yang tinggal didalam rumah Jajang, di mana umum lakukan diskusi masalah pengetahuan apa yang diyakininya, tidak ada jawaban lugas di keluarkan sang penghuni itu.

Tetapi ada satu rangkuman yang saya peroleh : Jajang serta Ichwan banyak bekerja dari tempat tinggal.

Lantas dari tempat mana mereka dapat terkait dengan Pimpinan ISIS di Suriah. Bagaimana dua pemuda desa lakukan hal yang ada diluar bayangan biasanya pemuda desa? Serta siapakah yang menyuruh mereka?

Sangat panjang bila saya berikan dalam tulisan ini. Cuma satu jalan, Simak AIMAN, senin jam 8 malam. Exclusive!

Support by : kompas.com